Sabtu, 12 Februari 2011

Mati Ketawa Ala Suharto

MATI KETAWA
Cara daripada Soeharto
oleh
Rakyat Indonesia
Inside Cover
Judul:
MATI KETAWA CARA DARIPADA...
lengkapnya.
MATI KETAWA CARA DARIPADA SOEHARTO
Gambar oleh: ISKRA
Penerbit Pustaka GoRo-GoRo
Hak Cipta © Rakyat Indonesia yang di tengah tekanan dan penderitaannya masih bisa
berhumor-ria
Dipersilakan mengkopi sebanyak mungkin. Penerbit tak akan menuntut apa pun apalagi
menggunakan undang-undang negara yang telah banyak dosanya dalam membonsai kehidupan
bernegara rakyat Indonesia. Juga dipersilakan untuk menerbitkan edisi ulang sendiri berikut
tambahannya berupa lelucon politik tentang pejabat yang kini kian banyak berkembang di masyarakat.
Anggota Ikatan Penerbit Buku Indonesia Alternatif (IKAPIA)
Cetakan Pertama, Januari 1998 Percetakan PT Manakutahu, Jakarta.
Pengantar Penerbit
Di tengah krisis ekonomi yang membuat ribuan rakyat kecil bertambah penderitaannya, sejumlah,
pejabat Indonesia menyatakan bahwa rakyat Indonesia adalah orang yang paling terbiasa dengan
penderitaan. Barangkali pernyataan ini benar adanya tapi juga barangkali pernyataan ini adalah sebuah
humor baru yang lebih mirip sebuah parodi.
Belakangan ini orang Indonesia kian produktif menciptakan humor. Para pelaku ekonomi di
Indonesia juga tak mau kalah bikin humor segar dengan merespon pembelian dolar Amerika secara
besar-besaran saat RAPBN dibacakan Soeharto. Demikian juga ketika Soeharto menyatakan takluk
pada tuntutan IMF, orang kembali memborong dolar. Rupiah jadi anjlok. Juga saat Soeharto
menyatakan kesediaannya dicalonkan jadi presiden lagi oleh Harmoko. Lantas anak presiden dan
sejumlah pejabat membalasnya dengan humor pula. Antara lain dengan melancarkan Gerakan Cinta
Rupiah dan perlombaan menyumbang emas secara mencengangkan. Tampaknya dalam situasi krisis,orang kian butuh humor.
Boleh jadi pers dibungkam, aktivis prodemokrasi dipenjara, organisasi kemahasiswaan dan
pemuda dibonsai, wakil rakyat sejati di-recall, aspirasi rakyat disumbat, tapi siapa yang bisa melarang
orang bikin humor? Barangkali humor adalah sebuah bentuk katarsis orang dari ketidakberdayaannya
dalam dunia nyata. Bisa saja penataran P-4 telah dijalankan secara sistematis, gerak-gerik setiap
warganegara diawasi dan para wakil rakyat diberi pembekalan, tapi apa memang “ya” lantas semua jadi
serba seragam?
Kumpulan humor dalam buku ini, paling tidak membuktikan bahwa ternyata tidak semua manusia
Indonesia telah “mati pikir” di negerinya sendiri. Ada sejumlah orang yang masih kreatif dan berotak
sehat. Buktinya mereka bisa membuat humor. Dan lewat humor-humor bikinannya itu mereka berhasil
mengundang orang lain untuk tersenyum. Meski kadang sinis dan menyakitkan.
Kumpulan humor yang diterbitkan dalam buku ini seluruhnya di-down load dari internet. Sebuah
media yang hingga kini belum bisa dikontrol apalagi dibredel oleh Polri, ABRI, Bakin, BIA atau demit
sekali pun. Apalagi oleh Deppen yang hingga kini masih sibuk melakukan pembinaan terhadap para
pemimpin redaksi media cetak lewat telepon, faksimili dan sejumlah pemanggilan.
Barangkali banyak di antara humor yang ada di buku ini merupakan pengulangan dari sejumlah
lelucon yang pernah diterbitkan. Barangkali para pengirim humor ini memang mengadaptasi dari humor
tentang penguasa Uni Soviet (dulu) atau lainnya. Itu tak penting, sebab penderitaan itu berfaham
universalian.
Dalam strata penderitaan yang sama, ideologi komunis atau sosialis seketika diganti dengan
kapitalis atau Pancasila. Figur diktator Hitler bisa diganti dengan Breznhev atau Lon Nol atau Soeharto. Kedunguan tokoh De Gaulle dalam humor Perancis bisa paralel dengan kedunguan Syarwan yang
pernah mengatakan, “Dari nyanyinya saja, saya bisa menebak ideologi seseorang.” Dalam sebuah lakon
tragedi, memang banyak paralelisme yang bisa dari tokoh-tokohnya. Di bawah sebuah penindasan batas
antara tragedi dan komedi memang begitu tipis.
Kami, sebagai penerbit sengaja, menamakan diri sebagai Penerbit Pustaka GoRo-GoRo. Nama
yang sama dengan nama “rubrik” yang memuat humor-humor ini dalam internet. Dan, barangkali sebutan
“GoRo-GoRo” memang kami anggap tepat untuk menggambarkan bagaimana sebelum perang yang
sesungguhnya dimulai, perlu sebuah babakan dimana dalang mengeluarkan serangkaian lelucon. Pada
saat ini badut dan punakawan berkesempatan menertawakan brengseknya kekuasaan.
Selamat tertawa! Tertawalah sepuasnya, sebelum penguasa melarang orang tertawa dengan cara
melarang buku ini!


Tes Kelinci

Kepolisian, ABRI, dan badan intelejen BIA saling menyombong bahwa merekalah yang terbaik
dalam menangkap penjarah yang sedang marak saat sekarang. Soeharto merasa perlu untuk melakukan
tes terhadap hal ini.
Soeharto melepas seekor kelinci kedalam hutan dan ketiga kelompok pengikut tes di atas harus
berusaha menangkapnya
BIA masuk ke hutan. Mereka menempatkan informan-informan di setiap pelosok hutan itu.
Mereka menanyai setiap pohon, rumput, semak dan binatang di hutan itu. Tidak ada pelosok hutan yang
tidak di interogasi. Setelah tiga bulan penyelidikan hutan secara menyeluruh akhirnya BIA mengambil
kesimpulan bahwa kelinci tersebut ternyata tidak pernah ada.
ABRI masuk ke hutan. Setelah dua minggu kerja tanpa hasil, mereka akhirnya membakar hutan
sehingga setiap mahluk hidup didalamnya terpanggang tanpa ada kekecualian. Akhirnya kelinci tersebut
tertangkap juga hitam legam, mati ... tentu saja.
Kepolisian masuk hutan. Dua jam kemudian, mereka keluar dari hutan sambil membawa seekor
tikus putih yang telah hancur-hancuran badannya dipukuli. Tikus putih itu berteriak-teriak: “Ya ... ya ...
saya mengaku! Saya kelinci! Saya kelinci!”


Titit dan Tutut


Kita masih ingat ketika aktor agak terkenal Indonesia, Ongky Alexander menikah dengan Paula,
anak buah Mbak Tutut, (yang konon kabarnya suka berlesbi-ria dengan Tutut … konon lho).
Beberapa minggu setelah pernikahan mereka, seorang wartawan kita menanyakan pengalaman
pertama Paula bersama Ongky, “Bagaimana pendapat Mbak Paula, mengenai pengalaman malam
pertama bersama Ongky?” “Wah, … ternyata titit lebih enak daripada Tutut!,” jawab Paula dengan antusiasnya.


Matematika Uang


Di salah satu sekolah dasar di Yogyakarta, seorang guru mengajarkan matematika, dengan
menggunakan uang rupiah sebagai sarana penyampaiannya.
Bu Guru bertanya, “Perhatikan anak-anak, pada uang rupiah yang bergambar Pak Harto
berapakah nilai rupiahnya?”
Murid-murid menjawab, “Lima puluh ribu, Bu Guru!”
Bu Guru bertanya lagi, “Sekarang perhatikan, pada uang rupiah yang bergambar monyet di hutan
berapakah nilai rupiahnya?”
Murid-murid menjawab, “Lima ratus, Bu Guru!”
Untuk mentest kekuatan penalaran murid-muridnya, dengan penuh selidik, Bu Guru bertanya, “Jadi
apa kesimpulan yang dapat kita tarik dari gambar dan nilai masing-masing uang rupiah tersebut
anak-anak?”
Murid-murid secara serempak menjawab, “Lima puluh ribu dibagi lima ratus adalah seratus, Bu
Guru. Jadi menurut mata uang kita, Pak Harto sama nilainya dengan seratus monyet di hutan, Bu Guru!”




Pengalaman Soeharto


Seperti jamaknya pensiunan jendral ABRI di negara kita, mereka masih dipekerjakan di sektor
swasta atau di lembaga-lembaga lain yang membutuhkan atau dipaksa untuk membutuhkan. Kata mereka
yang membela sistem ini adalah untuk mengurangi dampak negatif dari apa yang terkenal dengan “post
power syndrome.”
Rupanya Soeharto pun tidak lepas dari kerangka berpikir seperti di atas. Jadi dia memang masih
berharap jika dia pensiun dari presiden, masih dibutuhkan di tempat lain.
Namun, sebagai jendral, rupanya dia sudah membayangkan skenario yang bakal terjadi kalau dia
pensiun. Beginilah bayangan dia: “Kalau saya nanti pensiun, dan akan ditempatkan di suatu perusahaan,
pasti akan diadakan wawancara dahulu.” Kemudian Soeharto membayangkan percakapan dalam
wawancara tersebut adalah sebagai berikut:
Pewawancara, “Pak Harto, apakah pengalaman bapak sebelum ini?
Soeharto menjawab, “Saya berpengalaman menjadi presiden!”
Pewawancara, “Apakah Pak Harto berpengalaman mendidik isteri?”
Soeharto menjawab dengan agak malu, “Saya tidak berpengalaman”
Pewawancara, “Apakah Pak Harto berpengalaman mendidik anak?”

Kamis, 10 Februari 2011

Tertawa itu menyehatkan

Beragam Arti Dibalik Nama Pria Jawa

http://2.bp.blogspot.com/_OUM64esPmA8/TDsBuH3gk6I/AAAAAAAAAsc/lhyxsgYe3QY/s1600/hjawa1.gif
Dibalik nama-nama pria Jawa sesungguhnya ada harapan tertentu dari orangtuanya, agar anaknya kelak bisa sesuai yg diharapkan.

Contohnya:
Pandai menanam bunga, diberi nama Rosman.
Pandai memperbaiki mobil, diberi nama Karman.
Pandai main golf, Parman.
Pandai dalam korespondensi, Suratman.
Gagah perkasa, Suparman.
Kuat dalam berjalan, Wakiman.
Berani bertanya, Asman.
Ahli membuat kue, Paiman.
Pandai berdagang, Saliman.
Pandai melukis, Saniman.
Agar jadi orang kaya, Sugiman.
Agar besar nanti padai cari muka, Yasman
Suka begituan, Pakman
Suka makan toge goreng, Togiman
Selalu ketagihan, Tuman
Suka telanjang, Nudiman
Selalu sibuk terus, Bisiman
Biar pinter main game ... Giman
Biar bisa sering cuti ... Sutiman
Biar jadi juragan sate ... Satiman
Biar jadi juragan trasi ... Tarsiman
Biar pinter memecahkan problem ... Sukarman
Biar kalau ujian ndak usah mengulang ... Herman
Biar pinter bikin jus ... Yusman
Biar jadi orang yang berwibawa ... Jaiman
Biar jadi pemain musik ... Basman
Biar awet muda ... Boiman
Biar pinter berperang ... Warman
Biar jadi orang Bali ... Nyoman
Biar jadi orang Sunda ... Maman
Biar lincah seperti monyet ... Hanoman
Biar jadi orang Belanda ... Kuman
Biar tetep tinggal di Jogja ... Sleman
Biar jadi tukang sepatu handal ... Soleman
Biar tetep bisa jalan walau ndak pake mesin ...Delman

Sumber : http://terselubung.blogspot.com/2011/02/beragam-arti-dibalik-nama-pria-jawa.html